RESPECT

Pada bagian bagian awal catatan serial NLP ini kita dulu sudah pernah membahas tentang PRESUPPOSITION yaitu kumpulan asumsi asumsi dasar di dalam NLP. bagaimana kita berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain. Mulai dari seri hari ini kita coba mengulas apa saja yang menjadi PRESUPPOSITION dalam NLP tersebut.

“Respect for the other person’s model of the world.” ini bisa dibilang sebagai asumsi dasar pertama jika kita ingin merasa nyaman dalam berkomunikasi dengan orang lain. kita perlu menghormati, menghargai cara berpikir orang lain, kita perlu memahami bagaimana orang lain memandang dunia, kita perlu menghormati persepsi orang lain.

Stephen Covey , seorang penulis buku legendaris The 7 Habits of Highly Effective People pernah mengatakan ” Berusahalah untuk memahami , baru dipahami”

Asumsi dasar dalam kita ber NLP perlu menyadari bahwa setiap orang memiliki persepsi sendiri tentang bagaimana mereka memandang dunia ini. Saat kita berkomunikasi dengan orang lain, maka komunikasi yang perpengaruh itu adalah ketika kita bisa merubah pikiran orang lain, maka cara merubah pola pikir orang lain itu diawali dengan memahami terlebih dahulu dimana posisi mereka sekarang, untuk berpindah dan berubah kita perlu tahu dari mana titik berangkatnya. jadi sebelum merubah pikiran orang lain, sebelum merubah persepsi orang lain, kita perlu pahami dulu apa yang terjadi dalam pikirannya, kenali dulu seperti apa ia memandang dunia ini.

Ada sebuah kalimat yang selalu saya sampaikan agar kita bisa RESPECT kepada orang lain, terutama dalam berkomunikasi : “kalau mau membuat pakaian ukurlah badan sendiri, kalau berkomunikasi jangan pakai ukuran diri sendiri.” artinya kita perlu memahami orang lain, apa yang kita fahami belum tentu di fahami orang lain. pengalaman, ilmu, pengetahuan setiap kita berbeda, sehingga kita perlu adil dalam memposisikan orang lain saat berkomunikasi.

Kalau kita memaksakan persepsi dan pemahaman kita saja , tentu orang lain tidak akan merasa nyaman. namun kalau Anda tahu apa yang ada dalam persepsi orang lain , tentu ini lebih mudah menggerakkan mereka.

Sebagai contoh, jika ada seorang pemimpin perusahaan berbicara di depan karyawannya. kemudian dia memotivasi karyawannya dengan mengatakan :

” Kita semua perlu lebih semangat lagi, untuk memajukan perusahaan kita . agar pemegang saham dari perusahaan kita merasa gembira.”

Anda bisa membayangkan apa yang terjadi pada karyawan yang mendengarkan seorang pimpinannya memotivasi dirinya dengan menayampaikan tujuan agar para pemengang saham merasa gembira. ini sama sekali tidak bisa memotivasi karyawan, mereka tidak akan merasa penting apakah pemegang saham akan berbahagia atau tidak. karena persepsi mereka bekerja siang malam bukan untuk itu. mereka meninggalkan rumah bukan untuk menggembirakan pemegang saham, sama sekali tidak penting bagi mereka.

Seorang pemimpin yang baik perlu memahami dan menghormati persepsi karyawannya, ia perlu tahu apa motivasi karyawannya, misal ada diantara mereka yang menginginkan gaji yang lebih besar, ada yang menginkan kenaikan pangkat, ada yang menginginkan bonus yang lebih besar, atau apapun , seorang pempimpin yang baik adalah yang faham apa motivasi dan persepsi orang orang yang dipimpinnya.

Jadi kalau kita ingin mengajak orang lain berubah dan mempengaruhi pikiran mereka, kita perlu memulai dari memahami dimana posisi mereka sekarang, apa yang menarik bagi mereka, kita perlu jelaskan pad mereka apa untungnya bagi mereka jika mengikuti ide kita, ketika tepat apa yang kita sampaikan dengan kebutuhan mereka, maka tidak sulit untuk menggerakkan mereka kemanapun yang kita inginkan.

Artinya dalam berkomunikasi kita tidak bisa hanya melihat dari sudut pandang kita saja, kita perlu memahami sudut pandang orang lain, kita perlu tahu apa BELIEFS mereka, apa VALUES mereka. karena apa yang kita anggap penting belum tentu dianggap penting juga oleh orang lain. Kalau orang lain menganggap apa yang anda sampaikan tidak relevan dengan mereka, tentu mereka akan berfikir untuk apa membuang waktu bersama anda.

Jadi buat saya belajar NLP itu membantu kita agar lebih bijaksana, Orang lain yang kita ajak berkomunikasi belum tentu faham tentang konsep PETA bukanlah WILAYAH sebenarnya, apa yang kita pikiran tidak sama dengan kenyataannya. ketika seseorang tidak faham tentang konsep ini tentu mereka akan menganggap siapapun yang berbeda dengannya adalah orang orang yang perlu dia lawan, karena dia akan merasa perbedaan itu adalah ancaman bagi keyakinannya. namun dengan kita memahami bahwa persepsi setiap orang berbeda lalu kita bisa menempatkan diri untuk mengajak orang lain berpikir dimulai dari posisi yang dia fahami baru kita aja pelan pelan kepada pikiran serta ide yang baru, tentu ini lebih bijak. sehingga tidak ada yang merasa dipaksaksa untuk merubah dirinya. namun semua berubah atas kefahaman dan kesadaran sendiri.

Dalam aplikasi di lapangan kita bisa menggunakan PRESUPPOSITION ini misal saat kita berkomunikasi lalu kita merasa ada upaya perlawanan dari orang lain terhadap apa yang kita sampaikan , maka kita perlu lebih memperhatikan apa yang sedang dia pikirkan, kita perlu memahami persepsinya, agar kita bisa menemukan jalan membantu orang lain.

Anda tentu pernah melihat orang berdebat dan beradu argumen, ada diantara mereka yang seakan akan membungkam orang lain dengan kalimat yang tajam, menyerang pendapat orang lain. kemudian dia merasa menang ketika lawan bicaranya terdiam. konsisi seperti ini sebenarnya dalam komunikasi NLP bisa dimasukkan dalam kelompok komunikasi yang buruk. karena tujuan berkomunikasi adalah terjadinya perubahan menjadi lebih baik. bukan tentang menang kalah dan membungkam orang lain, sehingga membuat hadirnya kebencian dan semakin jauhnya kita dari orang lain.

Seorang komunikator yang baik itu adalah orang orang yang bisa mengajak siapapun untuk berubah menjadi lebih baik, ia lebih fokus pada apa yang benar, bukan tentang bagaimana ia menang dalam berbicara dan beradu argumen.

Kita perlu membantu orang lain untuk memahami pola pikirnya, lalu kita tunjukkan jalannya, agar dia bisa melihat seperti apa baiknya dia berubah , ibarat mengajak orang berjalan keluar rumah, anda perlu bimbing orang lain, agar dia tahu jalan mana yang perlu dia lalui agar dia sampai pada tempat tujuan yang anda inginkan.

Berkomunikasi itu bukan tentang menang dan kalah, namun bagaimana kita bisa menginspirasi orang lain agar mereka berubah menjadi lebih baik.

Share Now !

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Replay

LEADERSHIP IS INFLUENCE

INCREASE YOUR IMPACT AND INFLUENCE WITH
BANG LUBIS

SPEAK TO A PROGRAM COORDINATOR TODAY