SENSORY ACUITY

Pagi ini kita lanjutkan kembali pembahasan tentang pilar ke 3 dari NLP , sebagai rangkaian yang tak bisa lepas dari apa yang sudah kita ulas pada tulisan sebelumnya. Ketika seseorang sudah menentukan OUTCOMES nya dengan ketenangan, kenyamanan dan harmoni buah dari BUILDING RAPPORT yang secara konsisten dilakukan, agar semakin besar peluang dalam mendekatkan seseorang pada OUTCOMES yang sudah ditentukan maka seseorang perlu memperhatikan pilar ke-tiga ini ; SENSORY ACUITY .

SENSORY ACUITY adalah sangat erat hubungannya dengan kepekaan terhadap lingkungan. dengan mengoptimalkan MODALITAS yang sudah Allah karuniakan kepada kita, Kepekaan terhadap lingkungan dan apa yang sedang terjadi saat ini dengan mengkalibrasi setiap perubahan dari apa yang kita lihat, dengar dan rasakan saat ini.

Kalau di imajinasikan kita dalam sebuah penerbangan, coba Anda bayangkan bahwa diri Anda sedang duduk dalam sebuah pesawat yang sedang terbang tinggi di udara, dengan pengelihatan, Anda bisa melihat keluar jendela apa yang terjadi diluar pesawat, misal apakah pesawat ini sedang terbang dalam keadaan normal, apakah ada asap diluar atau dengan pendengaran Anda, anda bisa mendengar apakah suara mesin pesawat masih dalam keadaan baik atau ada sesuatu yang mulai tak seperti biasanya, Anda coba mesarakan juga, apakah terjadi turbulensi atau pesawat Anda masih dalam keadaan tenang. semua kondisi lingkungan perlu Anda amati secara lengkap.

Kalau dalam konteks pencapaian OUTCOMES anda, artinya anda peka dengan setiap bagian apa yang terjadi pada proses pencapaian anda, dengan MODALITAS yang ada, anda bisa memiliki pemahaman yang lengkap tentang apa yang sedang terjadi. SENSORY ACUITY artinya kita bisa melihat lebih banyak dari yang ada, memahami lebih dalam secara objektif dalam spektrum yang lebih luas.

SENSORY ACUITY membuat kita bisa mendudukan semua yang sedang terjadi secara objektif, sehingga peluang melibatkan prasangka menjadi lebih sedikit, bahkan idealnya sama sekali tidak menggunakan perasangka.

Bukankah Allah juga melarang kita berprasangka, sebagaimana firmanNya dalam Al Qur’an :

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain” [Al-Hujurat : 12]

Berprasangka pada sesuatu yang terjadi, saat otak kita menerima stimulus dari MODALITAS yang ada, tanpa SENSORY ACUITY maka sangat mungkin bagi seseorang menciptakan pikiran pikiran dan perasaan yang tak semestinya ia pikirkan , tak sedikit persoalan menjadi lebih rumit karena justru imajinasi tak memberdayakan yang justru mendominasi, misalnya dari stimulus yang ada seseorang mulai menciptakan prediksi hal hal negatif dalam pikiran dan perasaannya.

Perasangka berpotensi membuat seseorang bisa memutuskan untuk tak berbuat sesuatu, merasa putus asa dan mengambil tindakan yang tak mendekatkan dirinya pada OUTCOMES yang sudah ia tentukan. SENSORY ACUITY mengajak kita untuk berpikir lebih objektif dan mendalam, bukan berpikir sambil lalu tanpa kepekaan.

Dengan SENSORY ACUITY kita bisa memberi respon yang tepat, dari apa yang benar benar kita lihat , dengar dan rasakan.

Sebagai contoh kita tak bisa menuduh bahwa seseorang sedang merasa sedih, hanya karena kita melihat seseorang itu sedang menundukkan kepalanya, membungkukan bahu dan tubuhnya, berjalan lebih lambat dari biasanya. SENSORY ACUITY mengajak kita mengamati sesuatu apa adanya, tanpa melakukan penilaian secara terburu buru. agar kita yakin tentang sesuatu NLP menyarankan kepada kita untuk melakukan kalibrasi dan mengkonfirmasi dari semua informasi yang masuk ke otak kita melalui MODALITAS kita.

Sehingga dengan SENSORY ACUITY seseorang bisa memiliki kepekaan dan kepedulian yang memadai terhahadat lingkungan, sehingga dalam memberi respon tentunya lebih mudah dan tepat , karena respon yang diberikan semata mata berdasarkan apa yang dilihat , dengar dan rasakan. tanpa melibatkan perasangka perasangka yang justru seringkali kurang memberdayakan. ketika SENSORY ACUITY ini menjadi kebiasaan dan pola berulang yang baik dalam diri kita, tentu believe dalam diri kita juga senantiasa terbangun adalah believe yang memberdayakan.

By : Bang Lubis

Share Now !

Share on facebook
Facebook
Share on google
Google+
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn

Leave a Replay

LEADERSHIP IS INFLUENCE

INCREASE YOUR IMPACT AND INFLUENCE WITH
BANG LUBIS

SPEAK TO A PROGRAM COORDINATOR TODAY